Dulu Tempat Nongkrong Anak Gaul, Keramaian Kayutangan Bakal Kembali Dihidupkan

Keindahan kawasan Kayutangan di malam hari (ulinulin.com).
Keindahan kawasan Kayutangan di malam hari (ulinulin.com).

PAMEKASANTIMES, MALANG – Perkembangan Kota Malang dari waktu ke waktu memang terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. 

Saat ini, begitu banyak tempat nongkrong dan kongkow yang sering dimanfaatkan para muda mudi untuk bersosialisasi.

Tapi tahukah kalian, di kota yang penuh akan kenangan ini dulunya tak banyak memiliki tempat nongkrong. 

Mungkin warung kopi jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari, tak seperti sekarang.

Salah satu kawasan yang terkenal dan banyak dijadikan ajang berkumpul anak muda gaul era 80 an saat itu adalah kawasan Kayutangan. 

Kawasan yang dulu juga dikenal sebagai pintu gerbang pusat perekonomian Kota Malang ini memang sangat ramai. 

Di sanalah awal mula didirikannya pusat ruko dan pertokoan.

Tapi sekarang, Kayutangan tak lagi seramai dulu. Tempat yang dulunya banyak dimanfaatkan para pemuda untuk bermain dan bercanda itu berangsur sepi. 

Pusat perkumpulan anak muda pun bergeser ke beberapa titik lain, utamanya pusat kampus.

"Kayutangan dulu itu kata bapakku ramai anak nongkrong, tapi sekarang sepi," kata Luki, warga Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Meski sekarang tergolong sangat sepi, keramaian kawasan Kayu Tangan sepertinya akan segera dihadirkan kembali. 

Karena Pemerintah Kota Malang semakin gencar menyosialisasikan kepada masyarakat akan rencana pembangunan kawasan heritage di sana.

Dalam berbagai kesempatan, Wali Kota Malang Sutiaji menyampaikan jika Pemerintah Kota Malang akan segera menyulap kawasan tersebut sebagai pusat wisata baru. 

Sehingga perputaran ekonomi masyarakat akan kembali bergerak lebih masif lagi.

Terlebih, anggaran untuk pembangunan kawasan Kayutangan dengan median super besar yang ramah pejalan kaki sudah akan ditetapkan. 

Tahun depan, kawasan Kayutangan pun ditargetkan sudah beroperasi sebagai ikon wisata baru di kota pendidikan ini.

"Jika Yogyakarta punya Malioboro, dan Bandung punya Braga, maka Kota Malang memiliki Kayutangan. Kegiatan anak muda dan digitalisasi akan dipusatkan di sana," terang Sutiaji belum lama ini.

Pria berkacamata itu menyampaikan, konsep Kayutangan pastinya akan mengedepankan konsep jadul sebagaimana bangunan yang ada di kawasan tersebut. 

Tapi akan mendapat sentuhan modern yang juga menjadi salah satu upaya menuju Malang sebagai kota cerdas.

"Nanti setiap pembayaran dan transaksi di sana akan menggunakan e-money. Ini juga wujud edukasi kepada masyarakat. Kawasannya pun dibuat indah dan nyaman bagi pejalan kaki," paparnya.

Tak jauh dari sana, akan dibangun Mall UMKM yang diharapkan dapat menarik wisatawan untuk berbelanja sederet produk lokal. 

Wisatawan juga akan disuguhkan dengan banyak bangunan lama yang ada di setiap sudut Kayutangan dan Alun-Alun Kota Malang.

Konsep itu diharapkan mampu menghidupkan perekonomian masyarakat. 

Karena Sutiaji menilai, wisata menjadi salah satu saya tarik tersendiri untuk perputaran ekonomi. 

Sederet kampung tematik yang dicanangkan selama ini sudah terbukti berhasil dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. 

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Heryanto
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]pamekasantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pamekasantimes.com | marketing[at]pamekasantimes.com
Top