Dibantu Apoteker, Praktik Aborsi ini Berjalan Dua Tahun Lamanya

Praktik aborsi yang diungkap Polda Jatim
Praktik aborsi yang diungkap Polda Jatim

PAMEKASANTIMES, SURABAYA – Direktorat Kriminal Khusus Subdit IV/Tipidter Polda Jawa Timur berhasil bongkar tindak pidana aborsi, Selasa (25/06/2019). Wadir Reskrimsus Polda Jatim AKBP Arman Asmara mengatakan diawali pada Maret lalu, pihaknya mendapat informasi tentang  adanya seseorang yang menawarkan praktik aborsi. 

"Pengungkapan kasus ini dimulai dari informasi yang kami temukan tentang adanya seseorang di sebuah rumah di wilayah Sidoarjo yang melakukan aborsi itu bulan Maret. Lalu dilaksanakan kegiatan penyelidikan oleh Subdit 4 Ditkrimsus," kata Arman kepada awak media, Selasa (25/6/2019).

Usai dilakukan penyelidikan selama satu bulan, polisi pun mendapati praktik ini dilakukan oleh seseorang bernama Laksmita Wahyuning. Laksmita atau Mita diketahui melakukan praktik ini di kediamannya Sidoarjo dan di daerah Karah, Surabaya.

Dari penyelidikan ini, polisi juga mengamankan tujuh tersangka. Selain Laksmita yang membuka praktik, polisi juga mengamankan beberapa tersangka yang terlibat dalam aborsi ini.

Ketujuh tersangka yakni LW atau Laksmita Wahyuning Putri yang membuka praktik aborsi, Fauziah Tri Arini selaku suplier obat, Vivi Nurmalasari selaku suplier obat, M Busro selaku suplier obat, Tri Suryanti yang menggugurkan kandungannya, Muhammad Syaiful Arif selaku pemberi atau penyuplai dana, dan Retno Muktia Sari selaku pembantu pelaksanaan aborsi.

Menurut dia praktik aborsi yang dilakukan Laksmita cukup rapi. Praktik ini sudah berjalan selama 2 tahun silam dan berhasil mengaborsi 20 pasien. “Laksmita atau Mita mengaku telah melakukan aksinya selama 2 tahun dan mengaborsi 20 orang. Rata-rata menggunakan obat keras,” jelas Arman Asmara, kembali.

Obat yang digunakan merupakan obat keras ini hanya bisa didapat melalui resep dokter. Namun, pelaku juga bekerja sama dengan sejumlah oknum apoteker untuk mendapatkan obat tersebut.

Selain itu, pelaku tidak membuka klinik. Namun membuka praktik di rumahnya di Sidoarjo dan Surabaya. Pelaku juga tak menggunakan media sosial untuk mempromosikan jasa aborsi, tetapi dari mulut ke mulut. Bahkan, Arman mengatakan Laksmita tak memiliki basic di bidang kesehatan. "Bukan klinik, tapi menggunakan rumah biasa yang dijadikan sebagai ajang praktik. basic kesehatan, tapi hanya teller obat," imbuhnya.

Sementara dalam kasus ini, polisi mengamankan beberapa barang bukti seperti obat yang digunakan untuk aborsi, beberapa alat kesehatan yang dilakukan untuk praktik hingga alat komunikasi.

Kasus itu melibatkan tujuh orang tersangka dan beberapa barang bukti yang terkait tindak pidana tersebut. Atas perbuatan tersangka dijerat pidana dengan Undang Undang nomor 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan dengan pasal 83 dan 64 dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan Undang undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 194 dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Pewarta : M. Bahrul Marzuki
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Surabaya TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pamekasantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pamekasantimes.com | marketing[at]pamekasantimes.com
Top