Antrean untuk mendapat formulir dalam PPDB 2019 di SMPN 4 Kepanjen (Nana)

Antrean untuk mendapat formulir dalam PPDB 2019 di SMPN 4 Kepanjen (Nana)



Penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur zonasi dan pindahan orang tua tahun 2019 serentak dilaksanakan hari ini, Senin (20/05/2019) di SMPN Kabupaten Malang.

Suasana di berbagai SMPN pun terlihat ramai diserbu orang tua siswa sejak pagi sampai berita ini ditulis.

Walau PPDB jalur zonasi dan perpindahan orang tua dibuka sampai tanggal 22 Mei 2019, atau masih ada kesempatan dua hari ke depan, tapi antusias masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah sesuai zonasi tidak terbendung.

Hal ini terlihat di SMPN 4 Kepanjen yang sejak pukul 08.00 WIB antrean telah mencapai nomor 260. Sedangkan kuota maksimal di SMPN 4 Kepanjen sebanyak 352 siswa. Antusias warga tersebut ternyata membuat pihak sekolah kewalahan. Serta membuat orang tua calon siswa dibuat protes dengan pola pengaturan yang dilakukan pihak sekolah.

Sebut saja Abdurahman warga Kepanjen yang merasa tidak 'sreg' dengan cara pihak sekolah mengatur pola pendaftaran siswa baru hari pertama. Dimana dirinya mempertanyakan terkait fungsi PPDB Online tapi ternyata prosesnya tetap manual.

"La ini onlinenya dimana kalau gitu. Kalau kita harus antre lagi untuk mengisi formulir pendaftaran manual. Untuk antre juga dibatasi per 20 orang satu orang," kata Abdurrahman, Senin (20/05/2019) saat harus menunggu terbilang lama hanya untuk mendapat kertas formulir yang harus diisi secara manual.

Beberapa warga pun terlihat mulai tidak sabar dengan proses PPDB di hari pertama. Bahkan sempat terjadi debat antara orang tua siswa dengan petugas pendaftaran. Dimana, orang tua warga merasa bahwa persiapan dari pihak sekolah terkesan mendadak dalam PPDB. 

"La ini buktinya untuk pengisian formulir saja butuh waktu lama. Sedangkan kita sudah banyak yang antri dari pagi. Apa belum tersedia formulirnya?," ucapnya yang dijawab pihak sekolah, bahwa petugas hanya mencoba untuk mengarahkan pendaftar agar lebih bisa tertib dan tidak saling mendahului.

Antrian di dalam ruangan dalam proses pengisian formulir (Nana)

"Makanya untuk pengisian formulir kita bagi per 20 orang. Karena di ruang verifikasi biar juga tidak terjadi penumpukan. Kita berusaha untuk mengaturnya agar lancar," ujar salah satu petugas yang enggan disebut namanya.

Dirinya juga sedikit terpancing emosi saat para pendaftar terus merangsak untuk segera mendapat formulir. Sebagian lainnya meminta agar segera juga dibagikan formulir tersebut sehingga bisa antre di ruang lainnya. Petugas yang juga guru SMPN 4 Kepanjen tersebut sampai menyatakan lebih enak proses pendaftaran tahun-tahun lalu. "Tinggal lihat danem selesai, tidak ribet kaya seperti ini," ujarnya sambil keluar ruangan pengisian formulir untuk memprint-out formulir.

Antusias warga mendaftarkan anaknya sekolah tersebut, dimungkinan tidak terantisipasi dengan baik oleh pihak sekolah. Sehingga menimbulkan antrian panjang dan membuat orang tua banyak yang gerundel.

Dian warga Talangagung yang juga akan mengantarkan anaknya daftar, mengatakan, kalau memang PPDB online seharusnya tidak diperlukan adanya isi ulang formulir sampai proses verifikasi manual dan online lagi. "Kita daftar online selesai, cetak. Terus setorkan berkas-berkas pendaftaran, selesai. Tapi ini tidak, walau sudah daftar online ya tetap ikut pendaftaran cara manual lagi," ungkapnya sambil geleng-geleng.

Di SMPN 4 Kepanjen, proses PPDB 2019 memang harus melalui serangkaian ruang kelas. Di ruang pertama masyarakat melakukan pendaftaran, setelah selesai masuk di ruang kedua untuk mengisi formulir pendaftaran secara manual. Setelah itu kembali harus antri untuk verifikasi manual berkas pendaftaran yang dilanjutkan dengan verifikasi online.

Tidak hanya di Kabupaten Malang, informasi dari Kota Malang pun tidak jauh berbeda. Dimana orang tua siswa merasa sistem online tapi rasa manual dalam PPDB 2019 ini. Hal ini misalnya terlihat dari curhatan warga Kota Malang yang meminta Dinas Pendidikan juga menginginkan formulir pendaftaran. Sehingga bisa diisi dimanapun sebelum berkas semua diserahkan ke pihak sekolah.

Tag's Berita

End of content

No more pages to load